LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara, Makassar — Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX Sultanbatara kembali menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan tinggi yang aman dan berintegritas. Bekerja sama dengan Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, LLDIKTI WILAYAH IX memfasilitasi kegiatan Bimbingan Teknis Pencegahan dan Penanganan Kekerasan yang digelar di Aula Ridwan Saleh Mattayang, Makassar.

Mengusung tema “Bersatu Berdaulat Melawan Kekerasan, Kampus Berdampak, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, kegiatan ini menjadi bagian dari program nasional pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan perguruan tinggi, serta dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia.

Mewakili Kepala LLDIKTI WILAYAH IX yang berhalangan hadir, Kepala Bagian Umum, Syahruddin, membuka kegiatan dengan penegasan pentingnya menciptakan ruang aman di kampus sebagai syarat utama kemajuan bangsa.
“Kampus adalah tempat tumbuhnya ilmu dan inovasi. Namun itu semua tidak akan berkembang jika lingkungan kampus tidak aman,” tegasnya.
Syahruddin menyampaikan bahwa berbagai bentuk kekerasan — fisik, psikis, maupun seksual — merupakan ancaman serius bagi ekosistem akademik. Ia menekankan bahwa pencegahan dan penanganan kekerasan adalah tanggung jawab kolektif semua pihak di lingkungan perguruan tinggi.
“Korban kekerasan tak hanya mengalami luka secara personal, tetapi juga berimbas pada terciptanya iklim akademik yang tidak sehat. Maka, membangun sistem yang berpihak pada korban dan mengedepankan nilai empati menjadi sangat penting,” ujarnya.

LLDIKTI WILAYAH IX, lanjut Syahruddin, menyambut baik kepercayaan dari Inspektorat Jenderal Kemdiktisaintek untuk memfasilitasi kegiatan ini, sebagai langkah nyata menuju kampus yang beretika, inklusif, dan berdaya.
“Momen ini adalah pengingat bahwa kampus yang aman akan melahirkan lulusan yang berintegritas, kompeten, dan siap menjadi agen perubahan bagi masyarakat. Ketika masyarakat sejahtera, cita-cita Indonesia Maju pun semakin nyata,” tambahnya.

Dalam paparannya, Syahruddin menekankan tiga poin utama yang menjadi fokus bimbingan teknis ini:
- Edukasi kepada civitas akademika tentang pentingnya pencegahan kekerasan.
- Penguatan sistem penanganan kekerasan yang transparan dan berpihak pada korban.
- Penumbuhan budaya saling menghargai, menghormati, dan berempati di lingkungan kampus.
Bimbingan teknis ini menghadirkan empat narasumber dari lintas bidang yang menyajikan materi strategis:
• Caroline (Direktorat Belmawa Kemdiktisaintek) membahas “Urgensi Pembentukan Satgas PPKPT”.
• Yosephine Dian Indraswari (praktisi psikologi) memaparkan “Psychological First Aid dalam Penanganan Kekerasan”.
• Ganish Eka (Inspektorat Investigasi Itjen Kemdiktisaintek) dan Ririn Nurfati Reni Heri (Satgas PPK UNM) mengangkat praktik baik penanganan kekerasan dalam panel bertajuk “Praktik Baik Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi”.
Melalui kegiatan ini, LLDIKTI WILAYAH IX berharap seluruh perguruan tinggi di wilayah Sultanbatara dapat memperkuat komitmennya dalam membangun ruang belajar yang aman, inklusif, dan berpihak pada korban—sehingga pendidikan tinggi benar-benar menjadi rumah yang mendewasakan, bukan melukai.








