LLDIKTI wilayah IX Sultanbatara, Makassar-Komitmen untuk meningkatkan daya saing lulusan pendidikan tinggi terus diperkuat oleh LLDIKTI Wilayah IX melalui penyelenggaraan sosialisasi program magang industri di luar negeri. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Ridwan Saleh Mattayang LLDIKTI Wilayah IX pada hari Selasa, 24 Februari 2026, dan diikuti oleh perwakilan dari 165 perguruan tinggi di wilayah kerja LLDIKTI Wilayah IX sebagai bagian dari upaya membuka akses mahasiswa terhadap pengalaman kerja di tingkat global.

Dalam kegiatan tersebut, LLDIKTI Wilayah IX memfasilitasi peluang kerja sama antara perguruan tinggi dengan perusahaan asal Taiwan, Mason’s International Co., Ltd. Sosialisasi ini turut dihadiri oleh perwakilan perusahaan, Surian Chan, yang memaparkan skema pelaksanaan magang industri bagi mahasiswa Indonesia di sejumlah sektor industri di Taiwan.
Dalam sambutannya, Andi Lukman menyampaikan bahwa penyelenggaraan kurikulum pendidikan tinggi saat ini telah diberikan keleluasaan kepada masing-masing perguruan tinggi. Kondisi ini, menurutnya, menjadi peluang bagi pendidikan vokasi untuk merancang kurikulum yang lebih adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja, salah satunya melalui penguatan program magang industri.

Ia menuturkan bahwa melalui kewenangan penyusunan kurikulum yang dimiliki perguruan tinggi, institusi pendidikan dapat merancang proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pengalaman praktis yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Penyelenggaraan kurikulum saat ini diserahkan kepada perguruan tinggi. Harapannya, pendidikan vokasi dapat menyusun kurikulum yang membiasakan mahasiswa dengan dunia kerja, salah satunya melalui program magang,” ujar Andi Lukman.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pelaksanaan magang di dunia industri memerlukan persiapan agar mahasiswa mampu beradaptasi dan berinteraksi secara profesional di lingkungan kerja. Oleh karena itu, perubahan pola pikir di lingkungan perguruan tinggi menjadi penting untuk mempersiapkan lulusan yang benar-benar siap menghadapi tantangan dunia kerja.
“Mindset perguruan tinggi harus berubah untuk mempersiapkan lulusan yang siap di dunia kerja. Melalui konversi SKS, misalnya magang selama enam bulan dapat disetarakan dengan 20 SKS,” tambahnya.

Surian Chan menjelaskan bahwa terdapat beberapa persyaratan administratif yang harus dipenuhi oleh mahasiswa yang ingin mengikuti program magang industri di Taiwan. Persyaratan tersebut meliputi kepemilikan sertifikat kemampuan bahasa Inggris dengan nilai TOEFL minimal 350, kartu keluarga, ijazah terakhir, kartu tanda mahasiswa (KTM), paspor, serta surat keterangan hasil medical check-up.
Sebagai perusahaan fasilitator, Mason’s International Co., Ltd memberikan sejumlah dukungan bagi mahasiswa peserta magang, di antaranya tiket pesawat menuju Taiwan, layanan penjemputan saat tiba di negara tujuan, perizinan dari kementerian terkait, penerjemah, serta penyediaan mess atau tempat tinggal dan konsumsi selama masa magang. Adapun biaya hidup di luar fasilitas tersebut menjadi tanggungan masing-masing peserta.
Lebih lanjut, Surian Chan menyampaikan bahwa program studi yang berpeluang mengikuti magang industri di Taiwan saat ini mencakup mahasiswa dari bidang manajemen, pariwisata dan perhotelan, tata boga, pertanian, teknik, serta olahraga. Program magang ini dirancang berlangsung selama enam bulan di perusahaan mitra di Taiwan.
Momentum sosialisasi ini diperkuat dengan kehadiran Direktur Politeknik Dewantara, Suedi, yang membagikan pengalaman nyata para mahasiswanya yang tengah dan telah menyelesaikan program magang di Taiwan. Dalam presentasinya, Pak Suedi menampilkan testimoni video dan foto-foto aktivitas mahasiswa di lapangan.
“Mahasiswa kami yang kembali dari Taiwan tidak hanya membawa keterampilan teknis, tetapi juga kedisiplinan dan etika kerja yang sangat tinggi. Mereka belajar beradaptasi dengan budaya kerja profesional yang sangat dinamis,” ungkap Suedi di hadapan perwakilan 165 kampus.
Chalik, Kepala Bagian Kerja Sama dan Hubungan Industri Politeknik Dewantara dalam wawancara terpisah menjelaskan Politeknik Dewantara telah menjalin kerja sama dengan Mason’s International Co., Ltd dalam pelaksanaan magang internasional bagi mahasiswa. Mahasiswa yang mengikuti program magang industri di Taiwan selama enam bulan dapat memperoleh konversi akademik sebesar 20 Satuan Kredit Semester (SKS). Penyetaraan tersebut diberikan dengan sejumlah prasyarat akademik, antara lain penyusunan logbook atau catatan kerja harian yang secara berkala dikirimkan kepada dosen pembimbing, serta penyusunan laporan akhir magang sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik.

Ia juga menjelaskan bahwa pelaksanaan program magang industri di luar negeri bagi mahasiswa memiliki landasan hukum yang jelas di Indonesia. Ia menerangkan bahwa payung hukum pelaksanaan program magang tersebut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi.
Chalik menambahkan bahwa mahasiswa peserta magang menerima gaji dari perusahaan tempat mereka menjalani program industri di Taiwan. Dalam skema pelaksanaannya, sekitar 20 persen dari pendapatan mahasiswa tersebut dialokasikan kepada Mason’s International Co., Ltd sebagai pihak fasilitator program.
Melalui pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini, diharapkan perguruan tinggi dapat memahami mekanisme kerja sama magang industri di luar negeri serta mendorong integrasi program magang dalam kurikulum pendidikan vokasi. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal bagi perguruan tinggi dalam mempersiapkan mahasiswa agar memiliki kesiapan beradaptasi dan berinteraksi di lingkungan kerja internasional melalui skema magang yang terkonversi dalam Satuan Kredit Semester (SKS).



