LLDIKTI Wilayah IX Sultanbatara, Makassar – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX mendukung penuh pelaksanaan Indonesia Future Leaders Camp (FLC) 2025 Regional 3 yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa). Kegiatan berlangsung di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar mulai 12 hingga 14 November 2025, dengan melibatkan 60 mahasiswa terpilih dari 41 perguruan tinggi di wilayah Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.

Program ini dirancang sebagai wadah strategis untuk menyiapkan generasi pemimpin muda Indonesia yang berintegritas, adaptif, visioner, serta berdaya saing tinggi, sekaligus menjadi bagian dari regenerasi kepemimpinan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Peserta yang lolos merupakan hasil seleksi dari ribuan pelamar, yang sebagian besar merupakan ketua dan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di tingkat universitas maupun organisasi ekstra kampus.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, yang menekankan pentingnya membangun ekosistem regenerasi kepemimpinan nasional yang kuat dan berbasis pada kemampuan berpikir analitis.

“Sebagai calon pemimpin, Anda harus bisa berdiskusi dan membuka diri terhadap perbedaan. Itulah yang akan menjadi bekal dalam memimpin,” ujar Stella Christie dalam sesi pembukaan.
Melalui materi bertajuk Policy Making 1 SKS, Wamen mengajak peserta untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan analitis. Ia membagikan analogi dari kisah “survivor bias” pada masa Perang Dunia II, tentang kesalahan dalam menarik kesimpulan karena hanya menganalisis yang terlihat. Dari kisah ini, Wamen menegaskan bahwa pemimpin sejati harus mampu berpikir komprehensif dan ilmiah, melihat data secara utuh, termasuk hal-hal yang tidak tampak.

“Analisis yang salah akan menghasilkan keputusan yang salah, dan keputusan yang salah akan berdampak buruk bagi banyak orang. Itulah mengapa kemampuan analisis menjadi dasar kecerdasan kepemimpinan di era modern,” tuturnya.
Lebih lanjut, Wamen memperkenalkan konsep berpikir analitis dalam tiga dimensi: Impact (dampak), Feasibility (keterlaksanaan), dan Resistance (resistansi).
“Ide yang baik harus dimulai dari pertanyaan: apa dampaknya, untuk siapa, dan seberapa besar dampaknya. Setelah itu, pastikan ide tersebut dapat dilaksanakan dan siap menghadapi resistansi yang mungkin muncul,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Ditjen Dikti Kemdiktisaintek, Beny Bandanadjaja, menyampaikan bahwa FLC adalah ruang untuk membentuk jejaring Future Leaders Network, yang berisi mahasiswa dengan semangat kolaborasi dan komitmen sosial tinggi dari seluruh Indonesia.
“Keberagaman latar belakang peserta menjadi kekuatan besar dalam membangun kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif. Kami ingin mahasiswa belajar berjejaring, berdialog, dan berkolaborasi lintas budaya dan wilayah,” ujarnya.

Dukungan LLDIKTI Wilayah IX dalam pelaksanaan FLC Regional 3 mencerminkan peran lembaga sebagai perpanjangan tangan Kemdiktisaintek dalam mendukung program nasional penguatan karakter dan kepemimpinan mahasiswa. Melalui kegiatan ini, LLDIKTI IX berkomitmen untuk terus mendorong perguruan tinggi di wilayah kerjanya mengembangkan ekosistem pembelajaran yang membentuk mahasiswa berpikir kritis, kreatif, dan berintegritas.
Future Leaders Camp menjadi bukti nyata kolaborasi antara pemerintah pusat dan wilayah dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh, adaptif, dan memiliki visi kebangsaan.

Dengan semangat #KampusBerdampak dan #KampusTransformatif, LLDIKTI Wilayah IX terus mendukung setiap inisiatif yang menumbuhkan calon-calon pemimpin bangsa dari perguruan tinggi menuju Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.








